https://jurnal.mahadalygenggong.ac.id/index.php/jmag/issue/feedFIQHUL HADITS : Jurnal Kajian Hadits dan Hukum Islam2026-07-10T23:53:20+00:00M. Risqil Hidayatmahadalyzaha@gmail.comOpen Journal Systems<table width="642"> <tbody> <tr> <td width="142"> <p><strong><sub>JURNAL TITLE</sub></strong></p> </td> <td width="492"> <p><sub>FIQHUL HADITS: Jurnal Kajian Hadits dan Hukum Islam</sub></p> </td> </tr> <tr> <td width="142"> <p><strong><sub>FREQUENCY</sub></strong></p> </td> <td width="492"> <p><sub>TWO ISUES FOR YEAR (FEBRUARI AND AGUSTUS)</sub></p> </td> </tr> <tr> <td width="142"> <p><strong><sub>ONLINE ISSN</sub></strong></p> </td> <td width="492"> <p><sub><a href="https://drive.google.com/file/d/1t1xBHRV6v340UdHHOxuTlQP_GP4VlEws/view">2986-2434</a></sub></p> </td> </tr> <tr> <td width="142"> <p><strong><sub>PRINT ISSN</sub></strong></p> </td> <td width="492"> <p><sub><a href="https://drive.google.com/file/d/1ICOqeS6zhbJVffMApYKZ_ERO9V48a1KN/view">2986-3961</a></sub></p> </td> </tr> <tr> <td width="142"> <p><strong><sub>SCOPE</sub></strong></p> </td> <td width="492"> <p><sub>HADIST AND ISLAMIC LAW</sub></p> </td> </tr> <tr> <td width="142"> <p><strong><sub>EDITOR IN CHIEF</sub></strong></p> </td> <td width="492"> <p><sub>Dr. IMAM SYAFI`I, M.H</sub></p> </td> </tr> <tr> <td width="142"> <p><strong><sub>PUBLICHER</sub></strong></p> </td> <td width="492"> <p><sub>MA'HAD ALY PP. ZAINUL HASAN GENGGONG PROBOLINGGO</sub></p> </td> </tr> <tr> <td width="142"> <p><strong><sub>CONTACT</sub></strong></p> </td> <td width="492"> <p><sub>082237186989</sub></p> </td> </tr> </tbody> </table> <p>FIQHUL HADITS: Jurnal Kajian Hadits dan Hukum Islam adalah Jurnal yang diterbitkan oleh Ma'had Aly PP. Zainul Hasan Genggong Probolinggo, Jawa Timur, Indonesia. Mempublikasikan hasil penelitian terkait hadits, ilmu hadits, dan hukum Islam dari berbagai disiplin ilmu atau interdisipliner.</p> <p>JOURNAL INDEXTED BY: [<a href="https://garuda.kemdiktisaintek.go.id/journal/view/35389">GARUDA</a>, <a href="https://scholar.google.co.id/citations?user=ASg23ZcAAAAJ">GOOGLE SCHOLAR</a>] COLLABORATION WITH : [<a href="https://www.asilha.com/jurnal/">Asosiasi Ilmu Hadits Indonesia (ASILHA)</a>]</p> <p> </p>https://jurnal.mahadalygenggong.ac.id/index.php/jmag/article/view/59Singlehood in Hadiths: Takhrij Hadith and Contextual Approach 2026-06-12T12:56:17+00:00Khaerul Umamumamkhaerul712@gmail.comAtiyatul Ulyaatiyatul.ulya@uinjkt.ac.idShahir FikriI20204898@student.usas.edu.my<p><em>This research is motivated by the declining marriage rate in the contemporary era due to a shift in orientation among Gen Z and Millennials. So that not marrying (singlehood) has become a trend and a life principle. This problem seems to be at odds with the hadith of the Prophet Muhammad SAW which in his narration forbids someone from being single (tabattul). Therefore, this study aims to determine the quality of the hadith about tabattul which is then relevant to the phenomenon of singlehood that is rampant lately. This research uses a qualitative method with a type of literature study, the problems and hadith in this study are examined using a takhrij approach that includes criticism of sanad and matan within the scope of discussion of Sufism and psychology. The results obtained from this study are first, the quality of the hadith about tabatuul has authentic quality (H.R Al-Bukhari No. 5073), this is illustrated by the results of the takhrij which shows the presence of syawahid and tawabi. In addition, the sanad of the hadith is connected and has a fair and strong narrator of memorization, then the hadith also does not contradict the Qur'an. However, from a Sufi perspective, the term "tabattul" differs from the "uzlah" practiced by Sufis. Meanwhile, from a psychological perspective, the term "tabattul" in the hadith can be equated etymologically with the phenomenon of singlehood, as both involve the absence of a romantic relationship. Ultimately, according to the hadith, "tabattul" is permissible if there is a valid Islamic excuse. However, singlehood is prohibited if the reason is for promiscuity, partying, or a reluctance to follow the Sunnah of the Prophet Muhammad</em><em>.</em></p>2026-02-28T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Khaerul Umam, Atiyatul Ulya; Shahir Fikrihttps://jurnal.mahadalygenggong.ac.id/index.php/jmag/article/view/56Manifestasi Khalifah fi al-Ardh: Tinjauan Ekoteologis terhadap Sunnah Nabawiyah2026-06-12T12:58:25+00:00Amirotun Nuzulur Rohmahamirohmultazam35@gmail.comMuh. Nabilnabilnabil121995@gmail.comMuhammad Fawa’id AulazainFawaidfaiz15@gmail.com<p>Artikel ini mengkaji manifestasi konsep khalifah fi al-ardh sebagai landasan ekoteologis dalam Sunnah Nabawiyah melalui pendekatan kualitatif berbasis studi pustaka dan analisis tematik. Penelitian ini berangkat dari keprihatinan akademis terhadap krisis ekologi global yang semakin akut, sekaligus dari minimnya kajian sistematis yang menghubungkan prinsip-prinsip kekhalifahan dalam Islam dengan praktik-praktik ekologis Nabi Muhammad SAW secara komprehensif. Dengan menelaah berbagai hadis dan literatur tafsir ekologis secara mendalam, kajian ini menemukan bahwa Sunnah Nabawiyah memuat paradigma ekoteologi yang utuh dan operasional, yang mencakup dimensi perlindungan sumber daya air, konservasi lahan dan vegetasi, perlindungan keanekaragaman hayati, serta prinsip-prinsip ekonomi-ekologis berupa larangan israf dan kewajiban ihya al-mawat. Temuan penelitian menunjukkan bahwa konsep khalifah dalam bingkai Sunnah tidak terbatas pada wacana teologis-abstrak, melainkan mewujud dalam program hidup yang teroperasionalisasi secara konkret. Sistem hima yang dikembangkan Nabi SAW, misalnya, terbukti merupakan preseden awal dari sistem kawasan konservasi modern yang mendahului regulasi konservasi Barat setidaknya satu milenium. Penelitian ini berargumen bahwa reaktualisasi paradigma ekoteologi Sunnah dalam konteks kontemporer merupakan kontribusi peradaban Islam yang signifikan bagi wacana keberlanjutan global, khususnya dalam menghadapi krisis iklim dan degradasi ekosistem yang memerlukan transformasi nilai-nilai, bukan sekadar teknologi.</p> <p> </p>2026-02-28T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Amirotun Nuzulur Rohmah, Muh. Nabil, Muhammad Fawa’id Aulazainhttps://jurnal.mahadalygenggong.ac.id/index.php/jmag/article/view/60Interpretasi Tekstual dalam Memahami Hadith2026-07-07T03:16:47+00:00Achmad Wildan Khoerun Nahar23040260033@walisongo.ac.idRachiel Izza Naqiyarachiel.zz04@gmail.comHusairi Fathurrahman 23040260145@walisongo.ac.id<p>Artikel ini mengkaji interpretasi tekstual (al-tafsīr al-naṣṣī) dalam memahami hadith, yaitu metode yang menitikberatkan pada makna lahiriah teks hadith sebagai dasar fiqh al-hadith. Dengan menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research) bersifat deskriptif-analitis, kajian ini menelusuri pengertian, landasan epistemologis, karakteristik, ruang lingkup penerapan, serta contoh-contoh interpretasi tekstual, sekaligus membandingkannya dengan pendekatan kontekstual. Hasil kajian menunjukkan bahwa interpretasi tekstual berpijak pada epistemologi bayānī yang mengutamakan analisis kebahasaan dan gramatikal (lughawī) atas teks hadith tanpa banyak merujuk pada latar belakang historis (asbāb al-wurūd). Pendekatan ini paling relevan diterapkan pada hadith berkategori jawāmiʾ al-kalām—ungkapan ringkas namun padat makna yang merupakan ciri khas tutur kenabian. Meski memberikan kejelasan, konsistensi, dan kemudahan penerapan, terutama untuk hukum (ahkām) yang bersifat eksplisit dan universal, keterbatasan utamanya terletak pada potensi terlepasnya ruh hadith dari dinamika kehidupan sosial yang terus berkembang. Artikel ini menyimpulkan bahwa interpretasi tekstual tetap menjadi langkah awal yang tidak terpisahkan dalam fiqh al-hadith, namun perlu dilengkapi dengan pendekatan kontekstual (analisis asbāb al-wurūd dan maqāşid al-sharīʿah) agar menghasilkan pemahaman yang komprehensif, dinamis, dan relevan terhadap sunnah Nabi.</p>2026-02-28T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Achmad Wildan Khoerun Nahar, Rachiel Izza Naqiya, Husairi Fathurrahman https://jurnal.mahadalygenggong.ac.id/index.php/jmag/article/view/65Fenomena Phubbing dalam Interaksi Sosial Perspektif Hadis di Era Society 5.02026-07-10T23:53:20+00:00Nida Husnullabibahnidahusnullabibah2@gmail.com<p>Penelitian ini bertujuan untuk membahas fenomena phubbing dalam interaksi sosial perspektif hadis di era society 5.0. Fenomena phubbing, yaitu perilaku mengabaikan lawan bicara demi memusatkan perhatian pada gawai, semakin marak terjadi seiring pesatnya perkembangan teknologi digital yang menjadi ciri khas era society 5.0. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menerapkan metode deskriptif analitis untuk mengkaji fenomena tersebut secara mendalam. Objek formal penelitian ini adalah perspektif hadis, sedangkan objek materialnya ialah fenomena phubbing. Adapun lingkup penelitiannya yaitu dalam interaksi sosial, sementara konteks penelitian ini yakni era society 5.0 yang ditandai dengan integrasi teknologi ke dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Hasil dan pembahasan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa era society 5.0 yang memudahkan segala bentuk aktivitas manusia, apabila tidak diiringi dengan sikap bijak dalam penggunaannya, akan berakibat fatal pada kualitas interaksi sosial, termasuk melemahnya empati, komunikasi interpersonal, dan keharmonisan hubungan antarindividu. Perspektif hadis turut memberikan pandangan normatif mengenai pentingnya adab dan penghormatan dalam berinteraksi dengan sesama. Penelitian ini menyimpulkan bahwa interaksi sosial di era society 5.0 memiliki tantangan besar dalam menghadapi fenomena phubbing. Oleh karena itu, penelitian ini merekomendasikan kepada lembaga dan organisasi kemasyarakatan untuk melakukan pengelolaan interaksi sosial secara kreatif, inovatif, dan solutif dalam menangani fenomena phubbing di era society 5.0.<br>Kata Kunci: Hadis, Interaksi Sosial, Komunikasi, Phubbing</p>2026-02-28T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Nida Husnullabibahhttps://jurnal.mahadalygenggong.ac.id/index.php/jmag/article/view/62Antara Kewajiban Moral dan Beban Sosial: Analisis Praktik Buwuhan Pada Resepsi Pernikahan dalam Perspektif Sosiologi Hukum Islam2026-07-10T23:31:52+00:00DyanaAdn7menepihlhsejenak@gmail.comIsnainingsihisnainiauliya0534@gmail.comRamdan Wagiantoramdanwagianto21@gmail.com<p><em>The practice of buwuhan (offering a contribution or gift) at wedding receptions has long been a part of Indonesian custom, serving as a means to demonstrate solidarity, the spirit of mutual cooperation, and social support for the hosts. However, over time, the meaning of this practice has shifted; it is no longer viewed merely as a voluntary gesture but is often perceived as a moral obligation accompanied by the expectation of a reciprocal return in the future. This study aims to understand the dynamics of buwuhan at wedding receptions from the perspective of Islamic law within a social context, examining the interplay between social norms, religious values, and societal changes. Employing a normative legal approach combined with the sociology of Islamic law, the study relies on literature research. Data were gathered from the Qur'an, Hadith, legislation, and relevant scholarly books and journals, then analyzed using a descriptive-qualitative method. The findings indicate that the practice of buwuhan is fundamentally consistent with the values of mutual assistance (ta'awun) and customary practice ('urf) recognized in Islamic law, provided it is carried out voluntarily and does not conflict with Sharia principles. However, when buwuhan transforms into a burdensome social demand or creates a sense of compulsion, it ceases to align with the Sharia objective of fostering public welfare (maslahah). Therefore, it is essential to re-examine the practice of buwuhan to ensure it continues to strengthen social unity without compromising the values of sincerity and fairness in communal life.</em></p>2026-02-28T00:00:00+00:00Hak Cipta (c) 2026 Dyana, Isnainingsih, Ramdan Wagianto